Candi Cetho Candi Hindu di Atas Awan Jalur Pendakian Gunung Lawu

2020-08-03Candi

Kompleks Candi Cetho dari teras kesatu

Bukan hanya Candi Borobudur dan Candi Prambanan saja yang berada di Jawa Tengah, ada pula Candi Cetho yang tak kalah mengagumkan.

Candi Cetho bercorak agama Hindu, merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Memiliki keunikannya tersendiri, mulai dari candi tertinggi hingga basecamp pendakian Gunung Lawu.

Uniknya Candi Cetho Karanganyar

Candi Cetho merupakan sebuah situs kuno yang bisa Anda temukan di sisi barat kaki Gunung Lawu, Karanganyar. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V.

Menariknya dari Candi Cetho adalah, ia berdiri persis di atas kawasan Perkebunan Teh Kemuning yang luas dan hijau, sehingga perjalanan Anda untuk sampai di kawasan Candi Cetho tidak akan membosankan.

Candi Cetho Terletak Pada Ketinggian 1496 Mdpl

Lokasi Candi Cetho berada pada ketinggian 1.496 meter di atas permukaan laut, sehingga jalan menuju kompleks Candi Cetho sangatlah menanjak serta jurang di kanan-kirinya. Siapkan kondisi kendaraan yang sangat prima, atau sebaiknya gunakan jasa pengemudi yang telah benar-benar berpengalaman.

Karena letaknya pula, menjadikan Candi Cetho ini salah satu candi tertinggi di Indonesia. Bersama dengan candi lain seperti Candi Gedong Songo, Candi Kethek, Candi Sukuh, Candi Ijo dan kompleks Candi Dieng.

Struktur Candi Cetho Berupa Punden Berundak

Struktur Candi Cetho beteras-teras atau punden berundak, hampir mirip dengan Candi Sukuh yang terletak 10 km ke arah barat dari Candi Cetho. Saat ditemukan, Candi Cetho terdiri dari 14 teras yang disusun meninggi membentang arah Barat-Timur. Namun kini hanya 11 teras yang berhasil dipugar. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh tangga yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian.

Di beberapa teras juga terdapat gapura yang mirip dengan gapura di Bali. Jika dilihat dari atas, gapura-gapura ini berada pada 1 garis lurus.

Candi Cetho Masih Digunakan Sebagai Tempat Beribadah

Candi utama Candi Cetho

Candi utama Candi Cetho berada di teras tertinggi, berbentuk seperti Piramida Suku Aztec dari Meksiko. Sayangnya tidak seperi Candi Sukuh, Anda tidak bisa naik hingga ke atas puncaknya. Karena bangunan Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu, terutama pada hari Selasa dan Jumat setiap tanggal 1 Suro (penanggalan Jawa). Dan setiap 6 bulan sekali, di Candi Cetho diselenggarakan peringatan Wuku Medangsia.

Lingga dan Yoni Candi Cetho Terlihat Vulgar

Arca phallus dan vagina candi cetho

Candi Cetho memiliki arca dan relief yang unik. Salah satunya yaitu arca berbentuk phallus (lingga) dan vagina (yoni). Arca phallus dan vagina ini menyatu dengan gambar burung garuda dengan sayapnya yang membentang, di punggung garuda terdapat kura-kura raksasa.

Meski terlihat vulgar, menurut agama Hindu, arca phallus dan vagina ini memiliki makna sebagai lambang terciptanya manusia, serta kesuburan.

Di teras berikutnya Anda akan menemukan kembali arca phallus, dibuatkan rumah serta ditaburi bunga dan diberi dupa.

Candi Cetho Masuk Jalur Pendakian Gunung Lawu

Candi Cetho juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju Gunung Lawu, selain Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Jalur Candi Cetho yang terpanjang di antara jalur-jalur lainnya. Butuh waktu minimal sekitar 10 jam dari titik awal pendakian menuju puncak. Bandingkan dengan jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu yang rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar 6 jam.

Sejarah Candi Cetho Karanganyar

Asal Usul Nama Candi Cetho

Nama Cetho diambil dari nama dusun tempat candi Hindu ini dibangun yaitu Dusun Cetho. Dalam bahasa Jawa, 'cetho’ memiliki arti jelas. Karena jika Anda berada di Dusun Cetho, Anda bisa melihat pemandangan gunung di sekitar dusun dengan jelas.

Ke arah utara terlihat pemandangan Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu, Gunung Merapi serta lebih jauh lagi, puncak Gunung Sumbing. Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan anak-anak Gunung Lawu.

Fungsi Candi Cetho Sebagai Tempat Ruwatan

Berdasarkan prasasti bertuliskan huruf Jawa pada dinding gapura, terungkap bahwa Candi Cetho berdiri pada tahun 1397 Saka atau 1475 Masehi.

Konon Candi Cetho ini dibangun untuk ritual tolak bala membebaskan diri dari kutukan atau ruwatan, ketika saat itu Majapahit sedang banyak terjadi kerusuhan dan permasalahan.

Penemuan Kembali Candi Cetho

Menurut sejarah, kompleks Candi Cetho pertama kali ditemukan oleh Van der Vlis pada tahun 1842. Selain Van der Vlis, terdapat beberapa sejarahwan dan ahli lainnya yang telah melakukan penelitian terhadap Candi Cetho yakni W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.J. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Darmosoetopo yang berkebangsaan Indonesia.

Setelah itu, di tahun 1928 Candi Cetho digali kembali serta dilakukan pemugaran pada tahun 1975-1976. Namun banyak obyek-obyek yang ditambahkan di candi Cetho, sehingga keaslian bentuk tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Obyek tersebut antara lain gapura besar di teras pertama, patung-patung Brawijaya V, Sabdopalon dan Nayagenggong, bangunan berbentuk kubus di puncak punden serta bangunan dengan material kayu untuk pertapaan.

Kisah Relief Candi Cetho

Salah satu komponen candi adalah relief yang dipahat pada dinding candi. Relief pada candi Cetho menggambarkan cerita dari 2 tokoh Sudamala dan Garudeya. Kisah ini mengandung makna semangat manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka.

Menelusuri 11 Teras Candi Cetho

Gapura utama Candi Cetho

Teras ke-1

Saat Anda menaiki tangga batu ke arah teras 1, Anda akan berjumpa dengan 2 arca yang disebut Nyai Gemang Arum. Setelah itu, Anda akan disambut gapura utama Candi Cetho, bentuknya seperti pura yang ada di Pulau Bali.

Petilasan Ki Ageng Krincingwesi Candi Cetho

Di teras 1, Anda akan melihat bangunan seperti pendopo di atas pondasi setinggi 2 meter di bagian selatan. Di dalamnya terdapat susunan batu yang sering digunakan untuk meletakkan sesaji oleh masyarakat sekitar. Bangunan ini merupakan petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur desa cetho.

Tangga menuju teras kedua diapit oleh sepasang arca Nyai Agni. Salah satu dari kedua arca ini masih terlihat utuh.

Teras ke-2

Pada halaman teras kedua ini arca phallus dan vagina berada. Terhampar di halaman teras menyatu dengan gambar matahari bersinar serta burung garuda dengan sayapnya yang membentang. Di punggung garuda terdapat kura-kura raksasa. Di ujung masing-masing sayap garuda terdapat 2 bentuk matahari lain.

Dalam agama Hindu, Garuda adalah burung kendaraan Dewa Wisnu yang yang melambangkan dunia atas, sedangkan kura-kura yang merupakan titisan Wisnu merupakan simbol dunia bawah.

Adanya phallus di halaman ini yang menyebabkan Situs Candi Cetho disebut sebagai candi 'lanang’ (lelaki). Matahari bersinar 7 (tujuh) melambangkan Sang Surya yang diyakini sebagai sumber kekuatan kehidupan.

Di sisi barat terlihat dua buah ruangan yang hanya tinggal fondasinya saja. Tangga menuju teras berikutnya merupakan susunan batu andesit yang susunannya tidak rapi.

Teras ke-3

Di bagian teras 3 Candi Cetho Karanganyar ini Anda bisa melihat 2 bangunan pendopo tanpa dinding. Di dalamnya terdapat meja batu yang digunakan sebagai tempat sesaji. Pada dinding meja ada relief bergambar manusia dan binatang, cuplikan cerita Kidung Sudamala.

Tangga menuju teras berikutnya terbuat dari batu andesit yang sangat rapi susunannya.

Teras ke-4

Di sisi barat teras keempat terdapat sepasang arca Bima yang menjaga sebuah tangga batu menuju teras kelima.

Teras ke-5

Pada teras kelima juga terdapat sepasang bangunan pendopo beratap tanpa dinding, disebut dengan Pendopo luar.

Teras ke-6

Pada sisi barat teras keenam terdapat sebuah arca phallus atau Kalacakra dan sepasang arca Ganesha di depan kaki tangga menuju ke teras ketujuh.

Tangga menuju teras ketujuh dibuat bertingkat 3, di puncak tangga terdapat gapura yang merupakan pintu masuk ke teras ketujuh.

Teras ke-7

Pada teras ketujuh juga terdapat sepasang pendopo beratap tanpa dinding yang disebut Pendopo Dalam.

Teras ke-8

Pada teras ke-8 terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk sembahyang. Di depan pintu ruangan terdapat 2 buah arca batu dengan tulisan Jawa yang menunjukkan tahun dibangunnya Situs Candi Cetho, 1357 Saka atau 1475 Masehi.

Teras ke-9

Arca Sabdapalon candi cetho

Di sisi barat teras kesembilan, terdapat sepasang ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno. Di seberangnya berdiri 2 bangunan. Bangunan utara berisi arca Sabdapalon dan bangunan selatan berisi arca Nayagenggong. Kedua arca merupakan tokoh punakawan (pengasuh sekaligus penasehat kerajaan) pada masa Majapahit.

Teras ke-10

Arca phallus

Di teras kesepuluh, Anda akan menjumpai 6 bangunan kayu, 3 bangunan di utara dan 3 bangunan di selatan. Di sebelah utara terdapat arca Prabu Brawijaya. Sementara di bagian selatan terdapat arca phallus atau Kalacakra, dan tempat penyimpanan pusaka Empu Supa. Empu Supa adalah seorang pembuat pusaka yang cukup terkenal pada masa Majapahit.

Teras ke-11

Candi utama Cetho digunakan sebagai tempat berdoa

Teras kesebelas merupakan teras tertinggi, dimana Candi utama berada. Di bagian atasnya digunakan tempat berdoa oleh umat Hindu pada hari-hari tertentu. Di atas Candi terdapat ruang utama berbentuk kubus setinggi hampir 2 m, dengan luas sekitar 5 m². Ruang utama ini yang merupakan pesanggrahan Prabu Brawijaya.

Informasi Wisata Untuk Berkunjung ke Candi Cetho

Sebelum mengunjungi Candi Cetho, perhatikan informasi di bawah ini terlebih dahulu.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Candi Cetho 2020

Sejak 21 Juni 2020, Candi Cetho sudah dibuka khusus untuk warga DIY dan Jawa Tengah

Kawasan wisata Candi Cetho dibuka setiap hari, mulai pukul 09:00 hingga 15:00. Anda cukup membayar tiket masuk sebesar Rp10,000 per orang untuk menjelajahi seluruh area di Candi Cetho.

Sebelum memasuki kompleks Candi Cetho, Anda diwajibkan mematuhi protokol kesehatan. Seperti cuci tangan, jaga jarak, cek suhu tubuh dan selalu pakai masker. Durasi kunjungan terbatas, Anda boleh berada di dalam area Candi Cetho hanya selama 1 jam.

Anda juga diwajibkan mengenakan kain kampuh, kain bermotif kotak-kotak dengan warna hitam-putih yang biasa digunakan di Bali. Kain kampuh digunakan sebagai bentuk sikap hormat terhadap kesucian candi, yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai sarana peribadatan. Anda bisa membayar seikhlasnya ke kotak donasi untuk biaya kain ini.

Tempat Wisata di Sekitar Candi Cetho

Tak jauh dari lokasi Candi Cetho terdapat tempat wisata lain yang tak kalah menarik, yaitu Candi Kethek dan Puri Saraswati. Untuk mencapai 2 tempat ini, Anda bisa melewati jalan setapak yang ada di samping Candi Cetho. Anda akan menemui pertigaan dimana ke arah kiri menuju Candi Kethek dan ke arah kanan menuju Puri Saraswati.

Sepuluh km ke Barat Candi Cetho terdapat candi Hindu lain yang hampir mirip yaitu Candi Sukuh. Seperti disebutkan di atas, Candi Sukuh struktur bangunan dan arcanya hampir mirip dengan Candi Cetho.

Bisa juga menyegarkan diri di wisata air terjun Jumog atau menaiki seribu tangga di wisata air terjun Grojogan Sewu di kawasan Tawangmangu.

Jika Anda merasa lapar, Anda bisa menikmati sajian makanan di beberapa restoran atau rumah makan yang tersedia saat menuju atau kembali dari Candi Cetho. Misalnya di Bale Branti, menyediakan berbagai makanan khas Karanganyar. Mencicipi berbagai macam aneka teh dengan camilan sebagai sampingan di Rumah Teh Ndoro Donker.

Candi Cetho Terletak di Lereng Kaki Gunung Lawu

Lokasi Candi Cetho berada di Dukuh Cetha, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Berada di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1,496 mdpl.

Seperti yang disebutkan di atas, jalan menuju kompleks Candi Cetho sangat menanjak, curam, serta jurang di kanan-kirinya. Anda tidak perlu khawatir jika mengunakan jasa sewa mobil kami. Kondisi mobil kami benar-benar prima dan driver kami juga sudah berpengalaman.

Silahkan kunjungi halaman sewa mobil kami disini
Rental Mobil Jogja

Anda bisa menghubungi kami secara langsung melalui kontak di bawah ini :

 082164691939

 @borobudurtourjogja

 @borobudurtourjogja

 @borobudurtour