Mengintip Keindahan Kadipaten Puro Mangkunegaran Solo

2020-08-19Solo

Anda bisa menyaksikan secara langsung jejak sejarah yang sangat berkesan bagi masyarakat Surakarta di Pura Mangkunegaran. Terdapat museum yang menyimpan benda bersejerah bernilai seni tinggi, membaca beberapa koleksi buku berbahasa Jawa di perpustakaan lantai 2, ataupun menikmati setiap detail dari karya arsitektur gaya masa kolonial Belanda.

Selain itu, Puro Mangkunegaran juga sangat erat dengan sejarah berdirinya Kasunanan Surakarta yang dahulu bagian dari Mataram.

Keindahan Bagian-Bagian Pura Mangkunegaran

Melewati Pamedan Pura Mangkunegaran

Begitu memasuki pintu gerbang utama Istana Mangkunegaran, Anda akan menemukan pamedan, lapangan hijau yang dulu merupakan tempat pelatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Di sebelah timur lapangan, terdapat gedung kecil bergaya Belanda dengan nama Kavallerie-Artillerie. Konon, bangunan tersebut dulunya merupakan tempat latihan para pasukan berkuda.

Kini, Pamedan kerap dijadikan tempat penyelenggaraan event-event berskala besar di kota Solo, seperti Matah Ati, Solo International Performing Arts, hingga Solo International Ethnic Music.

Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran

Memasuki halaman kompleks Pura Mangkunegaran Anda akan berjumpa dengan bangunan Pendopo Ageng seluas 3,500 m2 dengan tiang warna hijau yang mendominasi. Warna bangunan tersebut adalah warna pari anom, warna khas keluarga Mangkunegaran. Atap pendopo dihiasi emblem Mangkunegaran yang diukir keemasan.

Dahulu, Pendopo Ageng berfungsi sebagai tempat para utusan atau abdi dalem menghadap Raja Mangkunegara. Untuk memasuki Pendopo Ageng, Anda harus melepaskan alas kaki dan juga menjaga sopan santun dalam berbicara.

Di langit-langit Pendopo Ageng terbentang 8 kotak lukisan Batik Kumudowati dengan warna berbeda-beda di tengah-tengahnya. Setiap warna memiliki arti yang juga berbeda. Anda pun akan menemukan 3 gamelan pusaka milik kerajaan Mangkunegaran di Pendopo Ageng ini.

Mendengarkan Melodi Gamelan Pusaka Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran memiliki koleksi gamelan-gamelan tua yang masing-masing dimainkan pada acara yang berbeda. Gamelan tersebut terbuat dari perunggu dan suara yang dihasilkan sangat jernih serta enak untuk didengarkan. Tiga diantara koleksi gamelan merupakan gamelan pusaka dan legendaris, tersimpan di Pendhapa Ageng. Gamelan tersebut bernama Kyai Kenyut Mesem, Kyai Lipur Sari, dan Kyai Seton.

Anda bisa mendengarkan melodi gamelan Kyai Lipur Sari yang dimainkan untuk mengiringi latihan tari pada hari Rabu pukul 10:00-12:00. Gamelan Kyai Seton dimainkan pada hari Sabtu untuk latihan para abdi dalem dalam mengiringi upacara-upacara adat. Sedangkan Kyai Kenyut Mesem hanya dimainkan pada acara khusus seperti pernikahan atau penobatan Raja.

Peninggalan Bernilai Seni Tinggi di Museum Pura Mangkunegaran

Menuju ke belakang Pendopo, Anda akan menemukan beranda terbuka yang bernama Pringgitan, digunakan untuk menggelar pertunjukan wayang. Terdapat beberapa lukisan karya Basuki Abdullah, seorang pelukis paling tersohor di Kota Solo.

Menuju ke Dalem Ageng, bangunan utama Pura Mangkunegaran yang kini dijadikan sebuah museum. Anda tidak diijinkan menggambil foto di Dalem Ageng.

Tersimpan benda-benda bersejarah yang mengandung nilai seni tinggi di dalamnya. Perhiasan yang terbuat dari emas murni, beberapa senjata yang merupakan hadiah dari kerajaan lain, pakaian-pakaian adat, topeng dari berbagai daerah di Indonesia, uang logam kuno, gambar adipati-adipati Mangkunegaran serta berbagai benda-benda seni.

Anda juga akan melihat petanen, tempat persemayaman Dewi Sri yang berlapiskan tenunan sutera.

Rumah Tinggal Keluarga Pura Mangkunegaran

Keluar dari Dalem Ageng, Anda akan dibawa ke Keputren, tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Terdapat taman asri yang ditumbuhi pohon, bunga, semak hias, sangkar berisi burung, patung-patung klasik bergaya Eropa, serta kolam air mancur.

Menghadap ke taman terbuka, terdapat Pracimoyasa, sebuah ruang keluarga yang digunakan untuk rapat. Di dalam bangunan terdapat ruang makan dengan perabotan dari Eropa. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding.

Panorama Indah Perpustakaan Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran

Di lantai 2 bangunan Pura Mangkunegaran, Anda bisa membaca koleksi buku di perpustakaan Rekso Pustoko. Perpustakaan ini didirikan oleh KGPAA Mangkunegara IV pada tahun 1867. Setidaknya terdapat kurang lebih 6000 koleksi buku berbahasa Jawa maupun Belanda. Selain buku-buku, perpustakaan Pura Mangkunegaran juga menyimpan koleksi naskah kuno, arsip dan juga foto.

Selama membaca koleksi buku, Anda akan ditemani oleh sinar mentari dan panorama mempesona dari sebuah jendela besar yang sangat terbuka lebar.

Pertunjukan Pura Mangkunegaran

Topo Bisu Kirab Pusaka Dalem 1 Suro Pura Mangkunegaran

Menyambut datangnya tahun baru Jawa, yaitu tanggal 1 Suro, setiap tahun Pura Mangkunegaran mengadakan kirab pusaka dalem. Lima pusaka berupa 4 tombak dan 1 pusaka yang ditempatkan dalam jodang (kotak kaca) dikeluarkan dan dikirab mengelilingi tembok istana.

Kirab pusaka dimulai pukul 19:30 WIB dengan rute diawali dari gerbang utama di Jl. Ronggowarsito berbelok ke kanan ke Jl. Kartini, Jl. R.M. Said, Jl. Teuku Umar dan kembali lagi ke Pura Mangkunegaran.

Selama kirab, tamu undangan, kerabat dalem, abdi dalem dan masyarakat yang mengenakan pakaian Jawa lengkap, berjalan tanpa alas kaki dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Suasana khidmat semakin terasa karena sepanjang rute kirab lampu-lampu penerangan jalan umum dimatikan. Ritual kirab ini juga sering disebut laku bisu atau tapa bisu.

Jika Anda ingin mengikuti ritual Kirab Pusaka Dalem, Anda bisa datang 1 hari sebelum tahun baru Islam. Untuk tahun 2020, jatuh pada tanggal 19 Agustus 2020. Namun sayangnya, upacara Kirab Pusaka Dalem untuk tahun ini ditiadakan. Semoga Anda bisa mengikutinya tahun depan, biasanya setiap tahun kalender Jawa maju selama 10-11 hari.

Sejarah Singkat Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran didirikan oleh Raden Mas Said (Mangkunegara I) yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Samber Nyawa pada tahun 1757, setelah menandatangani Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757.

Perjanjian Salatiga membagi Kerajaan Surakarta menjadi dua, Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Raden Mas Said menjadi pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaan berstatus kadipaten (Praja Mangkunegaran). Raden Mas Said mendapatkan gelar Adipati Mangkunegara I.

Info Wisata Berkunjung ke Puro Mangkunegaran

Puro Mangkunegaran sudah dibuka kembali mulai 13 Juli 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Anda harus cek suhu tubuh dan cuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk area Puro Mangkunegaran. Dan selama di dalam area, Anda diwajibkan selalu memakai masker.

Bagi Anda yang berusia di bawah 15 tahun, di atas 60 tahun, dan sedang haml, tidak diperbolehkan untuk masuk kawasan wisata Pura Mangkunegaran.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Pura Mangkunegaran 2020

Anda bisa mengunjungi Pura Mangkunegaran setiap hari Senin sampai Minggu mulai pukul 08:00 hingga 13:00. Anda akan dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang.

Untuk memasuki kawasan Pura Mangkunegaran, Anda diwajibkan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang merupakan abdi dalem kerajaan Pura Mangkunegaran. Tarifnya sukarela, biasanya Rp20.000.

Lokasi Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran terletak di Jl. Ronggowarsito No.83, Keprabon, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 66 km dari Yogyakarta, Anda bisa mencapainya dengan kendaraan pribadi selama kurang lebih 2 jam.

Jika ingin naik kendaraan umum dari Malioboro Jogja, Anda bisa menuju Stasiun Tugu dan naik kereta prameks, turun di Stasiun Purwosari Solo. Dari sini Anda melanjutkan berjalanan dengan naik bus Batik Solo Trans koridor 2 dan turun di Perhutani. Dari Perhutani Anda bisa jalan kaki sejauh 660 meter atau 10 menit menuju Pura Mangkunegaran.

Tidak perlu repot jika Anda sewa mobil dari Jogja. Anda bisa menjelajahi kota Solo sekaligus dengan bebas tanpa terikat waktu. Silahkan pilih mobil yang Anda inginkan di halaman rental mobil kami disini.
Rental Mobil Jogja