Situs Sangiran, Rumah Pithecantropus Erectus Si Manusia Jawa

2020-08-18Solo

Jika Anda berkunjung ke kota Solo, Jawa Tengah, jangan lupa mampir ke Museum Sangiran di Sragen. Museum Sangiran menampilkan artefak dan fosil makhluk hidup pada jaman purbakala, terutama kehidupan purba di Sangiran.

Fosil tulang manusia, tulang hewan dan tumbuhan, termasuk tulang gajah purba yang disebut Stegodon dan Mastodon, Badak, Buaya, Rusa, Babi, Kera dan Moluska disimpan di museum kecil dan unik di Situs Sangiran.

Situs Sangiran Menjadi Tambang Fosil Terlengkap Se-Asia

Tulang-belulang manusia prasejarah, hewan, tumbuhan yang telah mati, berumur ratusan ribu tahun, bisa ditemukan hampir di mana saja di bawah maupun di tanah; maka Sangiran tepat bisa disebut tambang fosil, sesuatu yang jarang ditemukan di dunia.

Terdapat banyak fosil-fosil langka yang diduga menjadi awal peradaban dunia. Situs Sangiran ini terbilang situs paling lengkap se-Asia, mengoleksi sekitar 14,000 fosil.

Temuan Fosil Pithecantropus Erectus Hingga Alat-Alat Batu di Situs Sangiran

Museum Sangiran menjadi tempat penemuan fosil manusia purba Pithecantropus erectus atau yang sering disebut Homo erectus dan manusia jawa oleh para paleoantropolog.

Ditemukan pula fosil manusia purba Megantrophus karena ukuran tulang-belulangnya yang besar, serta fosil aneka hewan dan artefak masa prasejarah.

Mungkin yang Anda bayangkan saat mendengar nama Sangiran adalah fosil dan fosil. Namun tidak hanya itu, kekayaan arkeologis Museum Sangiran juga mencakup alat-alat batu hasil karya manusia purba. Ada pula lapisan tanah purba yang menunjukkan bagaimana perubahan lingkungan alam sejak 2 juta tahun lalu sampai sekarang.

Situs Sangiran Dibagi Menjadi 5 Klaster

Situs Sangiran memiliki luas 59 km2, sehingga dibagi menjadi 5 klaster. Klaster Krikilan menjadi pusat kunjungan yang berisi informasi lengkap tentang Situs Sangiran. Di Klaster Krikilanlah Museum Manusia Purba Sangiran berdiri.

Menyusul kemudian Klaster Dayu, Klaster Manyarejo, Klaster Ngebung, dan Klaster Bukuran.

Ruang Pamer Museum Manusia Purba Sangiran

Bangunan Museum Sangiran Klaster Krikilan berada sedikit di bukit, ada anak tangga harus Anda lalui untuk sampai disana. Anda akan disambut dengan tulisan, “Situs Manusia Purba Sangiran, the home land of Java Man.”

Museum Sangiran ini memiliki tiga ruang pamer. Ruang pamer 1, bertema kekayaan Sangiran (wealth of Sangiran). Ruang pamer 2, bertema langkah-langkah kemanusiaan (steps of humanity). Ruang pamer 3, bertema masa keemasan Homo Erectus-500.000 tahun lalu (golden era of Homo erectus-500.000 years ago).

Ruang Pamer 1

Ruang pamer pertama berisi patung replika kehidupan zaman Homo Erectus, berbagai hewan purba seperti gajah purba, banteng purba, rusa purba, dan kerbau purba, buaya, ikan, kepiting dan sebagainya.

Ada juga temuan terbaru di situs Sangiran pada 2015, berupa rahang bawah buaya, tulang belakang gajah dan gading gajah. Anda bisa menyentuh fosil gading gajah purba yang berusia 300.000 tahun ini.

Ada 3 jenis gajah pernah hidup di Sangiran, 1 juta hingga 200 ribu tahun lalu, yaitu Mastodon, Stegodon, dan Elephas. Perbedaan dari ketiganya adalah bentuk gigi dan gadingnya.

Terdapat pula alat peraga yang menggambarkan bagaimana alam Sangiran dan manusia purba pada masa itu. Ada kawasan yang berair yang dihuni kuda nil, padang savana, bukit, dan gua.

Ruang Pamer 2

Pada ruang pamer 2 Anda bisa menonton audio visual yang memperlihatkan proses terjadinya alam semesta dan tata surya yang dimulai dari big bang.

Juga diterangkan pembentukan kepulauan Indonesia, dan kedatangan manusia pertama ke wilayah yang dulu masih bergabung dengan benua Asia ini.

Ada penjelasan tahapan-tahapan perkembangan bumi dari zaman prakambria sekitar 4,5 miliar-600 juta tahun. Saat itu, bumi dihuni mahluk bersel tunggal, lalu berikutnya muncul ubur-ubur, kerang, dan cacing.

Jauh setelah itu, di zaman Pleistosen akhir sekitar 200.000 hingga 40.000 tahun lalu, terjadi perubahan iklim. Bumi mengalami empat kali zaman es, kutub meluas dan permukaan laut turun. Di masa ini juga terjadi pengangkatan daratan termasuk kepulauan Indonesia. Pada masa inilah Homo erectus berkembang di Jawa.

Ruang Pamer 3

Ruang pamer 3 berisi diorama kehidupan Homo erectus 500,000 tahun lalu. Pada saat itu Sangiran mencapai puncak kejayaan kehidupan. Sisa-sisa Homo erectus tipik menjadi jenis yang paling banyak ditemukan.

Terdapat pula manekin Sangiran 17 atau individu S17, hasil rekonstruksi dari tengkorak yang ditemukan. Dan juga Homo flourensis, manusia bertubuh pendek yang didapati di Liang Bua dari Flores.

Manekin tersebut hasil karya seniman Perancis bernama Elisabeth Daynes. Manekin dilengkapi rambut, mata menatap lurus, dan kerutan wajah, seolah-olah ingin berkomunikasi.

Sejarah Situs Sangiran Mulai Penemuan Fosil Hingga Dibangunlah Sebuah Museum

Pada tahun 1934, G.H.R. Von Koegniswad seorang pakar paleoantropologi dari Jerman melakukan penelitian di kawasan Situs Sangiran. Pada saat itu ia menemukan alat-alat batu hasil budaya manusia purba. Selang 2 tahun kemudian, tahun 1936, fosil Homo erectus pertama ditemukan.

Kemudian dengan penelitian tahun demi tahun, menghasilkan temuan yang semakin banyak, baik berupa fosil hewan, fosil manusia, alat batu, dan juga alat tulang.

Hasil penelitian dikumpulkan di rumah , Bapak Toto Marsono hingga tahun 1975. Karena rumah Kepala Desa Krikilan sudah tidak muat, dan banyak wisatawan yang datang, alhasil pada tahun 1977 didirikanlah museum Prasejarah Sangiran di sebelah Balai Desa Krikilan.

Karena tingginya nilai budaya, kemudian Situs Sangiran ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tanggal 6 Desember 1996 dengan nama The Sangiran Early Man Site.

Berkunjung ke Situs Sangiran Perhatikan Info Wisata Berikut

Sejak 15 Maret 2020, Museum Sangiran ditutup untuk umum demi mencegah penyebaran virus Covid-19

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Museum Sangiran 2020

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Situs Sangiran, museum buka pada hari Selasa sampai Minggu jam 08:00 pagi dan tutup jam 16:00. Seperti museum lainnya di Indonesia, Museum Sangiran juga tutup pada hari Senin untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi.

Untuk melihat koleksi yang ada di Museum Sangiran, Anda dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang.

Lokasi Museum Sangiran

Museum Purbakala Sangiran terletak di Krikilan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Terletak di 2 wilayah kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Dilalui oleh sebuah sungai bernama Kali Cemoro yang bermuara di Bengawan Solo.

Dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya Malioboro, Museum Sangiran berjarak 85 km. Anda bisa mencapainya menggunakan kendaraan pribadi selama kurang lebih 2,5 jam.

Museum Sangiran tidak dijangkau angkutan umum, jadi Anda perlu menyewa mobil dari kota Jogja untuk bisa sampai disana. Anda bisa cek halaman rental mobil kami jika membutuhkannya.
Rental Mobil Jogja